Kamis, 24 April 2014

Kasih Sayang Allah pada Yaumul Hisab (2)

Pada yaumul hisab kelak, setelah menghadapi pengadilan dan mizan (penimbangan amal) di hadapan Allah, seorang lelaki diperintahkan untuk berjalan ke arah neraka. Walau ia seorang muslim, tetapi timbangan kebaikannya tidak bisa mengalahkan (lebih berat daripada) amal-amal keburukannya, dan Allah SWT tidak atau belum berkenan untuk memberikan ampunan kepadanya.
Lelaki itupun berjalan ke arah neraka, tetapi pada jarak sepertiganya ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang, setelah itu berjalan lagi. Pada jarak setengahnya, ia berhenti lagi dan menoleh ke belakang, tetapi tidak lama berselang ia berjalan lagi. Pada jarak dua pertiganya, atau sepertiga lagi akan sampai di pintu neraka, dan ia mulai merasakan panasnya yang membara, lagi-lagi lelaki itu berhenti dan menoleh ke belakang, tetapi tidak lama ia telah berjalan lagi menuju ke neraka.
Melihat perilaku aneh lelaki itu, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Allah memerintahkan seorang malaikat untuk membawa lelaki itu kembali ke hadapan-Nya. Setelah dibawa kembali, Allah berfirman kepadanya, “Wahai Fulan, mengapa engkau sampai menoleh tiga?”
Lelaki itu berkata, “Ya Allah, setelah hamba sampai di sepertiga jarak ke neraka, hamba teringat akan firman-Mu : Warabbukal ghafuuru dzur-rahmah (QS al Kahfi 58, artinya : Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi penuh rahmah/kasih sayang). Maka hamba berhenti dan menoleh, sangat berharap akan datangnya ampunan dan rahmat-Mu. Tetapi karena tidak muncul juga, hamba meneruskan perjalanan…”
Lelaki itu meneruskan, “Pada jarak setengah perjalanan, hamba teringat akan firman-Mu : Wa man yaghfirudz dzunuuba illallaah (QS Ali Imran 135, artinya : Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?), maka besarlah harapan hamba akan ampunan-Mu, karena sesungguhnya hamba telah berputus asa dari siapapun kecuali hanya Engkau. Tetapi karena tidak juga terlihat wujudnya harapan itu, hamba berjalan lagi…”
Ia meneruskan, “Ketika sampai pada jarak dua pertiga, hamba teringat akan Firman-Mu : Qul yaa ‘ibaadiyal-ladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa taqnathuu min rahmatillah (QS Az Zumar 53, yang artinya : Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melewati batas (dholim) kepada dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah). Maka bertambahlah harapan hamba atas maghfirah dan rahmat-Mu, ya Allah, tetapi karena tidak juga ada panggilan-Mu, hamba berjalan lagi, hingga salah seorang malaikat-Mu membawa hamba kembali ke sini!!”
            Setelah penjelasannya itu, Allah berfirman, “Pergilah engkau (ke surga), sesungguhnya Aku telah mengampuni engkau!!”

Note:ahq102

Kematian Seolah di depan Mata

Suatu senja Banan al Mishri sedang duduk santai di suatu tempat di Makkah, setelah ia menyelesaikan prosesi ibadahnya (haji atau umrah). Ia melihat seorang pemuda yang tampak miskin duduk tidak jauh dari tempatnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki meletakkan sekantong uang dirham di hadapannya, pemuda itu berkata, “Saya tidak butuh dengan uang ini!!”
Lelaki itu berkata, “Kalau begitu, bagikanlah uang ini kepada orang-orang miskin yang membutuhkannya!!”
“Baiklah!!” Kata pemuda itu, kemudian ia beranjak pergi membawa kantong uang itu.
Ketika malam tiba, Banan kembali melihat pemuda itu di suatu lembah, tetapi tampaknya ia sedang mencari-cari sesuatu untuk makan malamnya. Banan menghampirinya dan berkata, “Andai saja engkau menyisihkan uang yang kamu terima tadi untuk kebutuhanmu!!”
Sejenak pemuda itu memandang tajam kepada Banan, kemudian berkata, “Saya tidak tahu bahwa saya masih hidup sampai saat ini…”
Peristiwa yang hampir serupa pernah terjadi pada Ummul Mukminin, Aisyah RA. Suatu ketika beliau memperoleh hadiah dua karung uang yang masing-masing berisi 100.000 dirham, dan langsung membagi-bagikannya kepada fakir miskin dari pagi sampai sore harinya, sehingga tidak tersisa sama sekali.
Hari itu Aisyah sedang berpuasa, saat masuk waktu maghrib, pembantunya datang membawa makanan untuk berbuka berupa sepotong roti dan minyak zaitun. Ia berkata kepada Aisyah, "Seandainya engkau tadi menyisakan satu dirham, tentu aku bisa menyediakan sepotong daging untuk menu berbuka."      
"Mengapa engkau baru mengatakannya sekarang," Kata Aisyah, "Andai tadi engkau mengatakannya, tentu kusisakan satu dirham untukmu."

Note:rq408

Senin, 24 Maret 2014

Makna Sebuah Tawakkal

Ahmad bin Isa al Kharraz, atau lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Said al Kharraz adalah seorang sufi yang tinggal di Baghdad pada abad 3 hijriah, wafat pada tahun 277 H atau 890 M. Suatu ketika ia melakukan perjalanan melintasi padang pasir, dan tiba di kota Kufah dalam keadaan lapar. Seketika ia teringat temannya di kota itu bernama Al Jarari, yang mempunyai kedai makanan. Langsung saja ia melangkahkan kaki menuju ke rumahnya, tetapi ternyata Al Jarari sedang keluar. Tidak jauh dari kedai itu ada sebuah surau, maka Abu Said memutuskan untuk menunggu temannya di sana.
Ketika melangkah masuk ke dalam surau itu, ia berkata : Bismillaahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, wa salaamun ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillahil mutawakkiliin
Makna dari ucapannya itu adalah : Dengan nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang bertawakkal
Setelah shalat seperlunya, ia duduk berdzikir sambil sesekali menengok ke kedai kalau-kalau Al Jarari telah datang. Tetapi tidak lama kemudian datang seseorang yang tidak dikenalnya masuk ke surau dengan berkata, “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, Subhaana man akhlil ardhi minal mutawakiliin, wa salaamun ‘alainaa wa’alaa jamii’il kaadzibiin…”
Makna dari ucapannya itu adalah : Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Maha Suci (Allah) yang telah mengosongkan bumi dari orang-orang yang bertawakkal, salam sejahtera atas kami dan atas orang-orang yang berdusta.
Tentu saja Abu Said terkejut dengan ucapannya itu, yang jelas-jelas menyindir dirinya. Tetapi belum sempat ia berkata apa-apa, lelaki itu berkata lagi, “Wahai Abu Said yang mengaku tawakkal, tawakkal itu apabila engkau berada di padang pasir atau di bukit dan pegunungan, bukan di dalam kota sambil menanti datangnya Al Jarari…”
Abu Said berusaha menengok  untuk melihat lebih jelas siapa lelaki itu, tetapi ternyata ia tidak mendapati seorangpun di dalam surau itu kecuali dirinya sendiri. Segera saja ia tersadar kalau ia telah melakukan kesalahan saat pertama kali memasuki surau itu, dan ia menangis penuh penyesalan sambil mulutnya tidak lepas dari ucapan istighfar kepada Allah.

Note:ahq120

Tiga Pesan dalam Tiga Batu Nisan

            Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah, yakni pada tahun 70-80 an hijriah, ada seorang sufi pengembara bernama bernama Shidqah bin Mirdas al Bakri. Ia sering menjelajahi negeri-negeri Islam yang saat itu wilayahnya telah sangat luas, untuk mendapat hikmah dan pengajaran dari berbagai orang di berbagai macam tempat. 
Dalam pengembaraannya di wilayah Antokiah, termasuk wilayah Romawi saat itu, atau (mungkin) di Turki saat ini, ia melihat tiga buah makam yang tidak seperti umumnya di atas sebuah bukit. Pada masing-masing batu nisan yang cukup besar itu tertulis kalimat yang panjang lebar berisi sebuah pesan berharga, padahal biasanya hanya berisi nama dan terkadang ditambah tanggal kematiannya. Shidqah berusaha mencari tahu tentang masalah itu, dan ia dipertemukan dengan seorang syech yang cukup terkenal dan disegani di perkampungan itu. Setelah mendengar pertanyaannya, syech itu berkata, “Sesungguhnya kisah tentang mereka yang dimakamkan lebih menakjubkan daripada yang engkau lihat!!”
Kemudian sang syech menceritakan bahwa di masa lalu hidup tiga orang bersaudara, mereka memiliki aktivitas dan perilaku yang sangat berbeda, tetapi tetap saling menyayangi satu sama lainnya. Yang pertama adalah seorang gubernur, yang sibuk dengan urusan pemerintahan, khususnya di bidang kemiliteran. Yang kedua seorang pedagang yang sukses, yang sibuk dengan aktivitasnya untuk menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Sedangkan yang ketiga dan paling muda seorang pemuda yang saleh dan zuhud, ia lebih suka menyendiri untuk menyucikan dirinya (jiwanya) dengan banyak beribadah kepada Allah.
Suatu ketika sang adik termuda itu sakit dan kelihatannya telah dekat waktu kematiannya. Kedua kakaknya yang menungguinya berkata, “Wahai adik, adakah sesuatu yang perlu engkau wasiatkan kepada kami berdua?”
Sang adik berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak memiliki harta sedikitpun yang menjadi sebab aku harus berwasiat!!”
Sang kakak berkata, “Wahai adikku, katakan saja apapun yang engkau harapkan. Hartaku ini adalah untukmu, berwasiatlah dengannya apapun yang engkau inginkan. Aku berjanji akan melaksanakannya!!”
Kakak satunya lagi juga menegaskan komitmen yang sama. Sang adik berkata, “Baiklah, aku akan berpesan kepada kalian dan janganlah kalian mengingkari pesan itu!!"
Sebagai seorang yang saleh dan zuhud, sang adik sama sekali tidak ‘menyinggung’ harta dan jabatan kakaknya yang melimpah ruah itu dalam wasiatnya. Ia hanya berpesan, kalau ia telah meninggal, hendaknya mereka berdua yang memandikan dan mengkafaninya, kemudian ia ingin dimakamkan di tempat (dataran) yang tinggi, dan di batu nisannya hendaknya dituliskan pesannya, yakni : Bagaimana bisa hidup berfoya-foya bagi orang yang mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Pencipta akan meminta pertanggung-jawabannya, dituntut kedzalimannya kepada orang lain, dan akan diberi balasan kebaikan bagi orang yang berbuat baik!!
Setelah pemuda itu meninggal, dua kakaknya itu melaksanakan wasiatnya. Beberapa waktu berselang, sang Gubernur bersama pasukan yang dibawanya melewati bukit tempat adiknya dimakamkan. Ia menyempatkan untuk men-ziarahinya, dan ketika ia membaca tulisan yang tertulis di nisannya itu ia menangis tersedu-sedu, padahal sebelumnya ia tidak pernah menangis. Kesedihannya begitu mendalam, entah apa sebabnya? Apa karena teringat adiknya yang begitu disayanginya, atau karena pesan yang tertulis itu?
Pada kesempatan lainnya, ia melalui tempat itu lagi dan men-ziarahinya, dan lagi-lagi ia mengalami kesedihan yang membuatnya menangis tersedu-sedu. Tetapi ketika akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suatu suara nyaring dari makam adiknya itu. Suara itu begitu menghentak dan seolah membelah dadanya sehingga ia merasa ketakutan, karena itu ia segera meninggalkan tempat itu. Pada malam harinya ia bermimpi bertemu dengan adik bungsunya dan seolah-olah nyata saja, maka ia bertanya, “Apa yang kudengar dari dalam kuburmu itu, wahai adikku?”
Sang adik berkata, “Itu adalah suara nyaring yang akan memecahkan kepalamu, sebab engkau melihat suatu kedzaliman tetapi engkau tidak menghentikannya walau engkau mampu!!”
Sang gubernur sangat ketakutan mendengarnya, dan ia terbangun dengan keringat dingin bercucuran. Perasaan gundah, sedih dan takut bercampur baur dalam dirinya, dan ketika pagi menjelang, ia mendatangi adiknya yang menjadi saudagar dan berkata, “Tidak ada yang lebih bisa memahami pesan adik kita di nisannya itu kecuali aku ini…”
Kemudian ia menceritakan apa yang dialaminya, termasuk mimpinya itu, dan ia menyatakan akan berhenti sebagai gubernur. Setelah menyampaikan pengunduran dirinya kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan, ia meninggalkan segala kemewahan hidupnya selama ini dan tinggal menyepi dan menyendiri di atas gunung. Tidak ada yang dilakukannya kecuali hanya bertaubat dan beribadah kepada Allah, sebagaimana pernah dilakukan oleh adik bungsunya. Tidak ada yang menemaninya kecuali seorang pengembala bersama ternak-ternaknya.
Ketika ia dalam keadaan sakit parah yang membawanya kepada ajal, sang penggembala mendatangi sang adik yang menjadi saudagar untuk mengabarkan hal itu. Ketika menungguinya di saat-saat terakhir, adiknya berkata, “Wahai kakakku, apakah engkau tidak berwasiat kepadaku?”
Sang kakak berkata, “Dengan apa aku harus berwasiat? Aku tidak memiliki apapun yang menyebabkan aku harus berwasiat!! Tetapi aku hanya berpesan kepadamu, agar aku dimakamkan di sisi adik kita yang telah mendahului kita. Kemudian pada nisanku, hendaklah engkau tuliskan pesan ini : Bagaimana bisa hidup berfoya-foya bagi orang yakin, bahwa kematian akan menjemput dengan tiba-tiba. Kekuasaan yang besar dan megah, istana dan keluarganya akan segera tercabut dari dirinya!!”
Wasiat itu diulanginya sampai tiga kali sembari ia mendoakan adiknya itu agar Allah akan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Setelah kakaknya wafat, sang adik segera mengurus jenazahnya dan melaksanakan wasiatnya tersebut.
Pada hari ketiga ia berziarah ke makam dua saudaranya itu dengan perasaan sedih dan gulana. Rasanya masih belum lama berlalu ketika mereka bertiga saling mengasihi dan menjaga, walau dalam keadaan yang sangat berbeda. Ketika ia akan beranjak pulang, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari dalam kubur, yang membuat hatinya begitu miris dan akalnya nyaris hilang. Ia bergegas pulang dengan rasa takut sekaligus bingung, seperti orang yang linglung.
Pada malam harinya ia bermimpi tentang kakaknya, seolah-olah ada seorang lelaki yang berkata untuk menyampaikan pesan kakaknya itu, “Jika saja aku bertemu saudaraku, akan kulemparkan dia!!”
Tentu saja sang saudagar merasa kaget dengan perkataan lelaki itu, ia berkata, “Dimanakah saudara-saudaraku? Bukankah aku selalu menziarahinya?”
Lelaki itu berkata, “Jauh sekali, tetapi mereka dalam keadaan tentram di tempat kami!!”
Tampaknya belum puas dengan jawaban seperti itu, ia berkata lagi, “Dimana saudaraku? Bagaimanakah keadaannya?”
Lelaki itu berkata, “Baik sekali keadaannya, sesungguhnya taubat itu tidak berkumpul kecuali dengan kebaikan!!”
Ia masih bertanya lagi, “Bagaimana keberadaannya?”
Lelaki itu berkata, “Mereka bersama dengan para pemimpin yang baik-baik!!”
Sebenarnya sang saudagar itu ingin agar ia ‘bertemu’ langsung dengan kakak dan adiknya dalam impiannya itu, setelah peristiwa mengejutkan yang dialaminya ketika ia menziarahi makam mereka. Tetapi tampaknya lelaki itu tidak memberinya kesempatan untuk bertemu, kecuali hanya mengabarkan keadaan mereka. Ia jadi merasa tersisihkan, padahal ia sangat ingin berkumpul bersama dengan akrabnya, sebagaimana ketika mereka masih hidup dahulu.
Dengan perasaan gundah gulana, ia berkata, “Apakah ada yang ingin engkau pesankan (nasehatkan) pada diriku?”
Lelaki itu berkata, “Barang siapa yang meninggalkan sedikit saja dari kekayaan dunia (yakni, setelah sebagian besarnya disedekahkan), maka ia akan mendapatinya hasilnya di akhirat. Karena itu jagalah (manfaatkanlah) kekayaanmu sebelum miskinmu!!”
Setelah itu sang saudagar terbangun dari mimpinya dengan perasaan rindu yang amat menggumpal kepada saudara-saudaranya yang telah meninggal. Mimpi yang amat berkesan itu membuat sikapnya berubah, ia segera meninggalkan kesibukan perniagaannya dan mengisi hari-harinya dengan ibadah kepada Allah. Hampir sepertiga hartanya disedekahkan di jalan Allah, urusan perniagaan diserahkan kepada putranya, dan hanya menyisakan sedikit untuk dirinya, sekedar untuk bekal beribadah kepada Allah.
Saudagar itu memilih untuk hidup menyendiri, jauh dari keriuhan dan kesibukan dunia sebagaimana pernah dilakukan kakaknya. Secara rutin dalam beberapa hari sekali, anaknya menjenguk dirinya di tempat terpencil itu, hingga suatu ketika mendapati dirinya dalam keadaan sakit yang amat parah. Mungkin waktu kematiannya telah dekat. Anaknya berkata, “Wahai ayahku, apakah engkau tidak ingin berwasiat kepadaku?”
Ia berkata, “Demi Allah, wahai putraku, aku tidak memiliki apapun yang menyebabkan aku harus berwasiat kepadamu. Tetapi aku berpesan kepadamu, jika aku telah meninggal, kuburkanlah aku di dekat makam paman-pamanmu, lalu tulislah di nisan makamku dua bait kalimat ini : ‘Bagaimana bisa hidup berfoya-foya, orang yang menyadari ia akan berakhir di kuburan? Masa muda yang dijalaninya akan diuji, keindahan wajahnya yang sempurna akan sirna, dan tubuhnya akan usang dan hancur!!’ Jika wasiatku itu telah engkau laksanakan, berjanjilah kepada dirimu sendiri sebanyak tiga kali, bahwa engkau akan selalu mendoakanku!!”
Tak lama berselang ayahnya meninggal, dan putranya itu merawat jenazahnya, kemudian membawanya ke atas bukit untuk memakamkannya di dekat kuburan paman-pamannya. Ia juga mengerjakan semua wasiat ayahnya itu. Pada hari ke tiga ia berziarah ke makam ayahnya, sesaat ketika ia meninggalkan makam itu, terdengar suara keras dari arah makam tersebut, suara yang begitu menggetarkan jiwanya, wajahnya menjadi pucat pasi dan kulitnya serasa mengelupas semua. Ia segera pulang dengan tubuh yang panas dingin karena ketakutan.
Pada malam harinya ia bermimpi didatangi ayahnya, yang berkata, “Wahai putraku, kau akan segera berada di sisiku, segera menyusulku, bahkan kematian itu lebih dekat daripada itu. Karena itu bersiaplah untuk perjalanan panjangmu, bawalah bekal yang diperlukan di tempat barumu nanti. Janganlah engkau tertipu, sebagaimana orang-orang yang tertipu dengan angan-angan panjang mereka, sehingga mereka tidak mempunyai bekal di tempat kembalinya (akhirat). Menjelang kematiannya mereka menyesal telah menyia-nyiakan umurnya, dan penyesalan itu tidak ada artinya lagi. Dan lebih parah lagi, mereka yang menyesal ketika di akhirat baru menyadari kalau mereka orang yang merugi…Wahai putraku, bergegaslah, bergegaslah, bergegaslah …!!”
Sang syech menutup ceritanya kepada Shidqah bin Mirdas dengan berkata, “… setelah impiannya tersebut, sang pemuda menutup usahanya. Semua hutang-hutang dilunasinya, harta dan uang yang masih ada di orang lain dihalalkannya. Dan sisa harta yang masih dimilikinya terus disedekahkannya. Pada hari ketiga setelah mimpinya itu, tiba-tiba ia berpamitan kepada orang-orang di sekitarnya, meminta maaf dan mohon kehalalan jika masih ada kekhilafannya. Setelah itu ia menghadap kiblat dengan air mata yang terus menetes, kemudian ia bersyahadat dan meninggal dunia…”

Note:cms65

Sabtu, 09 November 2013

Kelihaian Tipu Daya Iblis

            Banyaknya amal kebaikan yang telah dilakukan, tingginya keilmuan sehingga disebut sebagai ulama, atau banyaknya ‘karamah-karamah’ yang telah dimiliki, tidaklah menjadi jaminan bahwa seseorang akan selamat dan kematiannya dalam status khusnul khotimah. Semuanya itu belum tentu menjadi jaminan. Sebelum Nabi Adam AS diciptakan, Iblis, yang saat itu masih bernama Azazil, adalah salah satu mahluk yang paling dekat (taqarub) kepada Allah, bahkan menjadi ‘teladan’ bagi para malaikat dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah. 
            Azazil sebenarnya mahluk penghuni bumi dari bangsa jin, tetapi karena kualitas dan kuantitas ibadahnya yang luar biasa selama ribuan tahun, derajadnya meningkat pesat melampaui para malaikat. Ketika Allah menciptakan Nabi Adam AS, mahluk pertama dari bangsa manusia yang disiapkan untuk menjadi khalifah di bumi, dan malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya, mereka semua mematuhinya kecuali Azazil. Azazil berdalih bahwa bahan asal penciptaannya dari api lebih baik dari pada tanah, bahan asal penciptaan Adam. Ia juga merasa kedudukannya sangat tinggi dan dekat di sisi Allah, dan ‘pemahaman’nya tentang Tauhid (hanya Allah SWT yang patut disembah dan disujudi), yang memunculkan kesombongannya sehingga menolak perintah Allah tersebut.
            Karena sikap angkuhnya tersebut, Azazil dikutuk Allah hingga tibanya hari pembalasan (yakni Hari Kiamat). Bukannya menyesal dan bertobat karena sikapnya telah menyebabkan murka Allah dan jatuhnya kutukan-Nya, Azazil justru menyatakan ‘perang’ kepada Adam dan anak keturunannya, yang dianggapnya sebagai penyebab ia dimurkai Allah. Tidak tanggung-tanggung, ia meminta kematiannya ditangguhkan hingga kiamat, dan bersumpah dengan keagungan Allah (bi’izzatika) untuk menyesatkan manusia, sebagaimana disitir dalam QS Ash Shaad 82-83 : Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau (ya Allah) aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka (mukhlishin).”
            Setelah terusir dari surga dan alam malakut (yakni berkumpul bersama para malaikat), Azazil yang tadinya berwajah rupawan dan bersinar karena cahaya taqarubnya kepada Allah, perlahan tetapi pasti wajahnya berubah jelek dan menakutkan. Hal ini disebabkan ia tidak pernah lagi bertaubat dan beribadah kepada Allah, seluruh waktu dan daya upayanya hanya dicurahkan untuk melampiaskan hasud dan dengkinya kepada manusia, untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, shirathol mustaqim. Dan nama Azazil sebagai identitas mahluk yang sangat dekat dengan Allah, perlahan dilupakan dan ia lebih dikenali dengan nama Iblis hingga sekarang.
            Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Iblis sempat tergerak untuk bertobat di masa Nabi Musa AS, dan ia meminta tolong kepada beliau yang dikenal sebagai Kalamullah (yang diajak berbicara langsung oleh Allah), untuk menyampaikan maksudnya tersebut. Ternyata Allah dengan sifat Rahman Rahim-Nya masih memberikan kesempatan iblis untuk bertaubat, asalkan ia mau bersujud di depan kubur Nabi Adam AS. Ketika Nabi Musa menyampaikan kepada Iblis syarat yang diminta Allah tersebut, rasa angkuhnya muncul lagi. Ia berkata, “Apa? Bersujud di depan kuburnya? Ketika ia masih hidup saja aku tidak bersedia bersujud kepadanya, apalagi kini telah menjadi jasad yang mati dan terkubur di dalam tanah.
            Mungkin memang sudah menjadi suratan takdir Allah bahwa Iblis tidak akan kembali menempuh shirothol mustaqim, dan hanya akan menjadi musuh, sekaligus penggoda manusia untuk menjadikan teman dan pengikutnya menjadi penghuni neraka. Dengan ‘pengalaman’ kedekatan kepada Allah jauh sebelum manusia diciptakan, dan terus hidup hingga kiamat dengan satu tujuan menyesatkan manusia, tentulah kelihaian Iblis dan bala tentaranya dari golongan syaitan tidak perlu diragukan lagi. Kisah terkenal dan sering dikisahkan tentang keberhasilan Iblis dalam menggoda manusia adalah tentang Barsisha.
            Barsisha adalah seorang ahli ilmu dan ahli ibadah yang hidup sebelum Nabi SAW, tetapi tidak jelas pada masa nabi atau rasul siapa. Karena begitu terkenal kealiman dan ke’abidannya, banyak sekali orang yang berguru kepadanya. Hebatnya lagi, dari enampuluh ribu murid-muridnya ternyata mempunyai ‘karamah’ bisa terbang atau melayang di udara. Dan seperti biasanya, jika ada orang yang tekun beribadah kepada Allah, Iblis dan bala tentaranya para syaitan sangat membenci orang itu, dan berjuang keras untuk menyesatkannya. Tetapi terhadap Barsisha ini Iblis telah beberapa kali mengalami kegagalan.
            Tidak hanya menjadi bahan pembicaraan dan pujian di bumi, di langit pun para malaikat juga memuji kealiman dan ketekunan ibadah Barsisha. Tetapi suatu ketika Allah berfirman kepada para malaikat yang terkagum-kagum itu, bahwa pada akhirnya Barsisha menjadi kafir dan akan masuk neraka untuk selama-lamanya. Tentu saja mereka keheranan dengan hal itu, tetapi tentu saja Allah SWT, sebagai Maha Penyusun Skenario kehidupan ini, lebih tahu dan lebih berhak untuk menentukan bagaimana jalan kehidupan Barsisha itu. Dan berita tersebut ternyata sampai juga ke pendengaran Iblis, dari para syaitan yang masih sering mencuri dengar berita di langit. Ia memutar otak dan menyusun strategi, dan akhirnya memutuskan untuk menjalankan sendiri rencananya tersebut. Untuk orang sekelas Barsisha, tampaknya ia harus turun tangan sendiri.
            Iblis menyamar sebagai seorang ahli ibadah yang sedang musafir, dan ia singgah ke tempat Barsisha, minta ijin untuk tinggal beberapa waktu lamanya. Barsisha amat gembira mendapat seorang teman untuk beribadah kepada Allah, bahkan ia menasehatinya, “Barang siapa beribadah kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya!!”
            Selama tiga hari tiga malam, Iblis beribadah terus menerus tanpa makan, minum dan tidak tidur. Ibadahnya tampak sekali sangat khusyu’ dan tulus walaupun hanya pura-pura, dan hal itu tidaklah sulit bagi Iblis karena ‘pengalamannya’ selama ribuan tahun ketika masih taqarub kepada Allah, saat masih bernama Azazil. Barsisha ternyata ‘termakan’ dengan jerat yang ditebarkan Iblis. Dengan kagumnya ia berkata, “Wahai saudara, engkau ini sangat hebatnya beribadah kepada Allah, selama tiga hari tiga malam tidak makan, minum ataupun tidur. Apakah rahasianya sehingga engkau bisa berbuat seperti itu? Aku telah beribadah kepada Allah selama 220 tahun, tetapi masih tidak bisa berbuat seperti engkau!!”
            Memang, Nabi SAW pernah memerintahkan, dalam hal ilmu dan ibadah, hendaknya melihat kepada yang lebih tinggi, sehingga kita terpacu untuk meningkatkan ibadah dan dalam menuntut ilmu, sekaligus meredam rasa sombong karena ibadah dan ilmunya. Sedangkan untuk urusan dunia, hendaklah kita melihat kepada yang lebih rendah (lebih kekurangan dan miskin), yang dengan itu kita bisa tetap bersyukur kepada Allah. Tetapi di sisi lain, Nabi SAW pernah menegur beberapa orang sahabat yang ‘berlebih-lebihan’ dalam ibadah. Ada yang berpuasa terus menerus, khatam Al Qur’an setiap hari, tidak tidur semalaman untuk melaksanakan tahajud dan lain-lainnya. Bahkan Al Qur’an sendiri telah menggariskan : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS Al Baqarah 286).
            Kembali kepada Barsisha, mendengar pernyataannya itu, Iblis berkata, “Wahai tuan, saya dahulu pernah bermaksiat kepada Allah, setelah itu saya bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan dengan hal itu saya merasakan nikmatnya beribadah, sehingga lupa makan, minum dan tidur seperti yang tuan lihat!!”
            Mata Barsisha tampak berbinar, ia sangat bersemangat untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya, tanpa menyadari ia sedang masuk perangkap Iblis. Tetapi ia sempat tersadarkan, “Bagaimana mungkin aku akan bermaksiat, padahal selama ini aku hanya beribadah saja kepada Allah!!”
            “Wahai Tuan,” Kata Iblis dengan licinnya, “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Jika telah merasakan ‘kegelapan’ dosa dan bertaubat, kita akan sangat bersemangat dalam beribadah kepada Allah, dan bisa merasakan nikmatnya!!”
            Barsisha tercenung beberapa waktu lamanya, tampak ia diliputi keraguan, tetapi kemudian ia berkata, “Dosa apakah yang harus aku lakukan?”
            Iblis bertepuk tangan gembira, tentunya hanya ekspresi di dalam hatinya, dan brkata, “Hendaknya tuan berzina!!”
            Barsisha terbelalak matanya karena kaget, dan berkata, “Tidak mungkin aku melakukan hal itu!!”
            Iblis berkata dengan licinnya, “Makin besar dosa yang kita lakukan, kemudian bertaubat, akan besar kita merasakan nikmatnya ibadah!! ”
            Logika yang tidak masuk akal, tetapi karena sedang ‘ambisius’, kadang pertimbangan akal sehat menjadi tertutup. Iblis berkata lagi, “Kalau begitu, hendaknya tuan membunuh seseorang yang beriman kepada Allah!!”
            “Aku tidak mungkin melakukannya!!” Kata Barsisha lagi.
            “Kalau begitu hendaknya tuan minum khamr saja,” Kata Iblis lagi, dengan siasat jitunya, “Dosa minum khamr hanya berhubungan dengan Allah saja, tidak menyangkut mahluk lainnya, akan lebih mudah bertaubat kepada Allah!!”
            Barsisha tampak menimbang-nimbang, akal sehatnya tampaknya benar-benar telah masuk perangkap Iblis, hanya karena ‘ambisinya’ untuk bisa menyamai ibadah musafir saleh gadungan, yang sebenarnya Iblis itu. Kemudian ia berkata, “Dimanakah aku bisa memperoleh khamr itu?”
            Iblis berkata, “Ikutlah saya!!”
            Dengan patuhnya Barsisha mengikuti musafir saleh palsu tersebut menuju suatu warung di desa sebelah. Penjualnya seorang wanita cantik dengan penampilan yang menantang. Setelah minum khamr, karena memang tidak terbiasa, langsung saja Barsisha mabuk. Tanpa menyadarinya pula, ia berbuat zina dengan wanita penjaga warung. Tidak lama berselang, suami si wanita datang dan bermaksud membunuh Barsisha.
            Melihat kejadian itu, Iblis buru-buru menghalangi sang suami untuk membunuh Barsisha, karena jika mati saat itu, ia tidak akan kekal di neraka. Iblis membawa Barsisha ke hadapan raja, dan ia dihukum cambuk 80 kali karena minum khamr, dicambuk 100 kali karena berzina, dan dihukum salib sebagai denda.
            Ketika sedang disalib, Iblis mendatanginya dan berkata, “Wahai Barsisha, bagaimana keadaanmu?”
            Barsisha berkata, “Beginilah keadaannya jika menuruti teman yang jahat!!”
            Tampaknya Iblis belum puas dengan hasil kerjanya, ia berkata, “Engkau telah menyembah Allah selama 220 tahun, dan kini engkau dalam keadaan tersalib. Bila mau, aku bisa saja menurunkanmu dari tiang salib ini!!”
            Barsisha yang memang belum mengetahui kalau temannya itu Iblis laknatullah, masih saja termakan dengan omongannya. Mungkin karena selama ratusan tahun keadaannya dimuliakan orang, ketika mengalami penderitaan dan kehinaan seperti itu jiwanya jadi goyah. Ia berkata, “Tolonglah, turunkan dan lepaskan aku dari salib ini. Apa saja yang engkau minta akan aku turuti!!”
            Iblis berkata, “Sujudlah engkau kepadaku sekali saja, maka aku akan membebaskanmu!!”
            Barsisha berkata, “Aku tidak bisa bersujud di atas salib ini!!”
            “Sujudlah dengan isyarat saja!!”
            Barsisha bersujud kepada Iblis dengan isyarat kepalanya, dan setelah itu Iblis tertawa dan lenyap dari pandangan. Tak lama setelah itu Barsisha mati dalam keadaan kafir kepada Allah. Na’udzubillahi min dzaalik. 

Note:psw71Ts36

Berbuat Baik Walau Didzalimi

            Muhammad bin Himyar adalah seorang yang saleh dan wara’, hari-harinya lebih banyak diisi dengan puasa sunnah dan shalat malam, tentunya setelah menyempurnakan ibadah fardhunya. Ia juga sangat senang membantu siapa saja yang mengalami kesulitan, sejauh ia mampu melakukannya. Tetapi ternyata tidak semua pihak senang dengan perbuatan baik yang dilakukan seseorang, mungkin karena dengki, persaingan, memusuhi atau karena alasan lainnya, begitu juga yang pernah dialaminya.
            Suatu ketika ia berburu di hutan, tiba-tiba datang seekor ular dan berkata seperti menghiba, “Hai Muhammad bin Himyar, tolonglah aku, semoga Allah akan menolongmu!!”
            Ia sempat terkejut dan heran karena ular itu berbicara seperti dirinya, tetapi karena permintaannya itu yang tampak mendesak, ia mengabaikan keheranannya dan jiwa ‘penolong’nya yang lebih tampil. Ia berkata, “Dari siapakah aku harus menolongmu!!”
            Ular itu berkata, “Dari musuhku yang ingin membunuhku!!”
            “Dimanakah musuhmu?” Tanyanya lagi.
            “Ia mengejar di belakangku!!” Kata ular itu lagi.
            Ibnu Himyar sempat waspada dengan berkata, “Dari umat siapakah engkau ini?”
            “Umat Nabi Muhammad SAW!!”
            Lalu ia membuka serbannya dan berkata, “Masuklah engkau di sini!!”
            Ular itu berkata, “Aku akan dapat dilihat oleh musuhku itu!!”
            Kemudian ia melonggarkan ikat pinggangnya dan berkata, “Masuklah ke dalam bajuku, engkau akan aman di sana!!”
            Ular itu berkata lagi, “Ia masih akan bisa menemukanku di situ!!”
            “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menolongmu!!”
            Ular itu berkata, “Jika memang ingin menolongku, bukalah mulutmu, dan aku akan bersembunyi di dalam perutmu!!”
            Ia berkata, “Aku khawatir engkau akan membunuhku!!”
            Ular itu berkata, “Demi Allah aku tidak akan membunuhmu, Allah menjadi saksi atas janjiku ini, begitu juga dengan para malaikat dan para Nabi-Nya, Halamatul Arsyi (malaikat yang menyangga Arsyi) dan semua penduduk langit!!”
            Mendengar janjinya itu, tanpa ragu lagi Muhammad bin Himyar membuka mulutnya dan masuklah ular itu ke dalam perutnya. Tidak lama berselang, datang seorang lelaki dengan pedang terhunus dan berkata, “Apakah engkau melihat musuhku!!”
            Ibnu Himyar berkata, “Siapakah musuhmu itu?”
            Ia berkata, “Seekor ular!!”
            “Tidak!!” Kata Ibnu Himyar, tetapi dalam hatinya ia terus menerus mengucap istighfar karena kebohongannya berkata ‘tidak’ itu, walau hal itu yang diperbolehkan, yakni berbohong untuk menyelamatkan nyawa orang lain atau mahluk lainnya.
            Setelah orang bersenjata pedang terhunus itu berlalu dan tidak terlihat lagi jejak kehadirannya, Ibnu Himyar berkata, “Wahai ular, keluarlah karena musuhmu telah pergi jauh, sekarang ini telah aman!!”
            Tetapi ia amat terkejut ketika mendengar ular itu tertawa dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau pilih satu di antara dua hal, apakah aku akan merobek-robek hatimu atau aku akan melobangi jantungmu, dan aku biarkan engkau (tubuhmu) tanpa ruh!!”
            Ia berkata, “Subkhanallah, dimanakah janji dan sumpahmu itu, begitu cepatnya engkau melupakannya!!”
            Lagi-lagi terdengar ular itu tertawa dan berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau melupakan permusuhanku dengan bapakmu, Adam, yang aku telah mengeluarkannya dari surga. Mengapa pula engkau berbuat baik kepada orang yang curang dan tidak mengenal budi!!”
            Tentu saja Muhammad bin Himyar tidak menyangka bahwa ular itu adalah penjelmaan Iblis ataupun syaitan terkutuk. Tipikal Rasulullah SAW sebagai Rahmatal lil ‘alamin yang menjadi acuannya untuk berbuat baik kepada siapa saja termasuk bangsa binatang. Karena tidak ada pilihan lain maka ia hanya berpasarah diri kepada Allah, dan berkata kepada ular itu, “Jika engkau memang harus membunuhku, mau apa lagi, mungkin sudah menjadi jalan dan suratan takdirku untuk mati di tanganmu. Tetapi berilah waktu untukku menuju bukit itu untuk mengatur dan menyiapkan tempat matiku.”
            “Terserah padamu!!” Kata ular di dalam perutnya itu.
            Muhammad bin Himyar berjalan menuju bukit di maksud, tetapi sambil berjalan mulutnya tidak henti-hentinya melantunkan doa, layaknya orang sedang bersyair atau bersenandung :
            Ya lathif ya lathief, ulthuf bi luthfikal khofiyyi
            Ya lathif, as’aluka bil qudratil  latis-tawaita biha ‘alal arsyi
            Falam ya’rifil arsyu aina mustaqarraka minhu
            Illa kafaitani haadzihil hayyaati
            Makna dari doanya tersebut adalah : Ya Lathif ya Lathif (salah satu Asma Allah, Yang Maha Halus/Lembut), berilah aku karunia-Mu yang samar (lembut) itu, Ya Lathif, dengan kekuasaan-Mu ketika Engkau meliputi arsyi, sehingga arsyi itupun tidak mengetahui di manakah Engkau, aku memohon hendaklah Engkau hindarkan aku dari kejahatan ular (dalam perutku) ini.
            Tak henti-hentinya ia melafalkan doanya itu, sampai ia bertemu dengan seseorang yang sangat harum baunya dan bersih sekali penampilannya. Lelaki itu mengucap salam, dan setelah dijawab salamnya, ia berkata lagi, “Wahai saudaraku, mengapa wajahmu tampak berubah (yakni jadi memucat)?”
            Muhammad bin Himyar berkata, “Karena musuh yang berlaku kejam terhadapku!!”
            “Di manakah musuhmu itu,“ Tanya lelaki itu lagi.
            “Di dalam perutku!!”
            “Bukalah mulutmu!!”
            Ibnu Himyar membuka mulutnya, dan lelaki itu memasukkan sebuah daun hijau, mirip dengan daun zaitun, sambil berkata, “Kunyahlah dan telanlah!!”
            Ibnu Himyar segera mematuhinya, dan tidak berapa lama kemudian ia merasa sakit perut, disusul dengan keluarnya potongan-potongan ular yang berada di perutnya, melalui duburnya. Ia langsung mengucap syukur kepada Allah, dan sambil memegang tangan lelaki itu ia berkata, “Wahai Fulan, siapakah engkau ini, yang Allah telah menolongku dengan perantaraan engkau?”
            Lelaki itu tertawa dan berkata, “Apakah engkau tidak mengenal aku??”
            “Tidak!!” Kata Ibnu Himyar.
            Ia berkata lagi, “Wahai Muhammad bin Himyar, ketika terjadi peristiwa antara engkau dan ular itu, hingga akhirnya engkau berdoa, suara doa para malaikat di langit bergemuruh untuk memohonkan keselamatan atasmu. Maka Allah berfirman : Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, sungguh Aku telah melihat semuanya. Kemudian Allah memerintahkan aku pergi ke surga untuk mengambil satu daun hijau, dan memberikannya kepadamu. Namaku Al Ma’ruf, dan tempatku di langit ke empat!!”
            Ibnu Himyar makin banyak mengucap syukur kepada Allah, karena dari ‘musibah’ yang dialaminya, justru Allah memberikan karunia dengan mempertemukannya dengan Malaikat Al Ma’ruf dalam wujud manusia.
            Malaikat Al Ma’ruf itu berkata lagi, “Hai Muhammad bin Himyar, tetaplah engkau berbuat dan berbudi baik, karena dengan sikapmu itu dapat menghindarkan berbagai kejahatan dan kebinasaan. Meskipun tidak dibalas (diterima dan ditanggapi) dengan kebaikan oleh orang yang engkau berbuat baik kepadanya, tetapi tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah SWT!!”

Note:ii465

Kamis, 17 Oktober 2013

Bekerja kepada Allah

            Ada dua orang Majusi yang telah puluhan tahun menghabiskan umurnya untuk mengabdi pada agamanya, yakni menyembah api, sekaligus ‘melayani’ umatnya yang ingin beribadah. Karena itu mereka berdua juga mendapat tempat cukup terhormat di antara para penganut Agama Majusi. Yang seorang telah berusia lanjut, yakni  73 tahun, sedang satunya lagi baru 35 tahun.
            Suatu ketika terbersit pikiran ‘nyeleneh’ pada yang muda, ia berkata kepada temannya, “Kita telah sangat lama menyembah api ini, maka marilah kita mencoba, apakah api ini akan menolong kita atau tetap membakar kita sebagaimana ia membakar orang-orang yang tidak menyembahnya. Jika ia tidak membakar, kita akan terus menyembahnya, tetapi jika ia tetap membakar, maka apa gunanya kita tetap memujanya!!”
            “Baiklah!!” Kata yang tua.
            Yang muda berkata, “Engkau atau aku yang akan mencoba!!”
            “Engkau saja!!” Kata yang tua.
            Yang muda mengulurkan tangannya ke api yang menyala-nyala, dan tentu saja ia merasa panas terbakar. Reflek ia menarik tangannya sambil menggerutu, “Tigapuluh lima tahun aku menyembahmu, tetapi tetap saja engkau menyakitiku!!”
            Kemudian ia berkata kepada temannya, “Marilah kita cari Tuhan yang lain saja, yang seandainya kita berdosa dan melalaikan perintah-Nya, Dia masih akan tetap mengampuni dan memaafkan kesalahan kita!!”
            “Baiklah!!” Kata yang tua.
            Mereka berdua berjalan hingga tiba di Kota Bashrah, dan menemukan sekumpulan orang yang tengah mendengarkan pengajaran Malik bin Dinar. Mereka berdua membaur, mendengarkan pengajaran tentang agama Islam tersebut. Tampak sekali yang muda sangat tertarik, dan ia mengajak temannya untuk memeluk Islam. Tetapi yang tua berkata, “Tidak usahlah aku memeluk Islam, aku telah sangat tua, dan umurku telah habis untuk menyembah api. Kalaupun aku memeluk Islam, tentulah keluargaku, tetanggaku dan masyarakat lainnya akan mencaci maki aku. Mereka pasti akan mengusir, aku akan kehilangan segalanya dan menjadi gelandangan dunia!!”
            Yang muda berkata, “Jangan khawatirkan itu, caci-maki bisa berhenti, tetapi panasnya siksa api neraka akan abadi!!”
            Tetapi yang tua tidak perduli dengan nasehatnya, dan ia tidak jadi meninggalkan agama Majusi. Mungkin ia takut kehilangan segala kenikmatan dan kehormatan yang telah dirasakannya selama ini jika memeluk agama Islam. Sebaliknya, lelaki yang lebih muda itu sangat bersemangat untuk memeluk Islam. Setelah kembali ke rumahnya, ia segera mengajak anak-anak dan istrinya memeluk Islam, dan mereka menyambutnya. Dengan membawa bekal sekedarnya, mereka meninggalkan daerah itu menuju Bashrah, langsung ke majelis pengajaran Malik bin Dinar. Setelah usainya majelis, lelaki itu berdiri dan menceritakan pengalamannya, dan meminta dibimbing untuk memeluk Islam.
            Jamaah yang mendengarkan kisahnya itu menyerukan takbir, terharu dan menangis tanda gembira menyambut keislamannya dan keluarganya itu. Setelah dibimbing dan diajarkan beberapa pokok-pokok ajaran Islam, lelaki itu berpamitan. Malik bin Dinar berkata, “Tunggulah sebentar hingga teman-temanku mengumpulkan sedikit harta untuk bekalmu!!”
            Tetapi lelaki itu berkata, “Tidak perlu, bukan dengan tujuan itu aku memeluk agama Islam, dan aku tidak ingin menjual agamaku dengan dunia!!”
            Setelah itu mereka berpamitan pergi, yang diiringi dengan doa dan pandangan penuh kesedihan dari jamaah majelis Malik bin Dinar. Mereka tiba di sebuah reruntuhan, dan mereka tinggal di sebuah rumah tua kosong di antara puing-puing yang berserakan. Keesokan harinya, karena bekalnya yang sangat sedikit, sang istri berkata, “Pergilah ke pasar, carilah pekerjaan di sana, dan belilah makanan secukupnya untuk kita!!”
            “Baiklah,” Kata lelaki itu.
            Sesampainya di pasar, ia meminta pekerjaan pada setiap orang yang ditemuinya, tetapi tidak ada yang bias memberinya pekerjaan. Menjelang waktu dhuhur ia belum juga memperoleh pekerjaan, maka ia berkata kepada dirinya sendiri, “Lebih baik aku bekerja kepada Allah saja!!”
            Ia meninggalkan pasar dan memasuki suatu masjid yang tampak sepi dari pengunjung. Ia terus beribadah,  sembahyang dan berdzikr hingga waktu malam tiba, setelah itu pulang.
            Istrinya telah menunggu di pintu, setelah melihatnya tidak membawa apa-apa, ia berkata, “Engkau tidak memperoleh sesuatu hari ini??”
            Lelaki itu berkata, “Hari ini aku bekerja untuk Sang Raja, hanya saja hari ini Dia belum memberikan apa-apa, semoga saja besok Dia memberikan sesuatu!!”
            Malam itu ia dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar, karena sedikit bekal yang tersisa tidak cukup untuk mengganjal perutnya. Keesokan harinya lelaki kembali ke pasar. Ketika menjelang dhuhur dan belum memperoleh pekerjaan juga, ia memutuskan untuk ‘bekerja kepada Allah’ lagi, dan beribadah di masjid yang sama. Ketika malam harinya pulang dan istrinya menyambut, ia berkata, “Aku masih bekerja untuk Raja yang kemarin, tetapi hari ini Dia belum memberikan apa-apa. Besok hari Jum’at, semoga Dia memberikan sesuatu untuk aku!!”
            Malam itu, lagi-lagi mereka melaluinya dengan menahan rasa lapar. Keesokan harinya pada hari Jum’at, lelaki itu kembali ke pasar dan tetap tidak memperoleh pekerjaan seperti sebelumnya. Menjelang shalat Jum’at, ia masuk ke masjid untuk beribadah, kali ini, usai shalat dua rakaat ia berdoa, “Ya Allah, Engkau telah memuliakan aku dengan Islam, telah memberikan kepadaku keagungan Islam, telah memberikan petunjuk kepadaku dengan petunjuk terbaik. Ya Allah, atas nama kemuliaan agama yang telah Engkau berikan kepadaku, atas nama kemuliaan hari Jum’at yang penuh berkah, hari yang Engkau tetapkan sebagai hari agung, aku mohon tenangkanlah hatiku karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku, berikanlah aku rezeki, Demi keagungan-Mu, aku malu kepada keluargaku, dan aku khawatir mereka berubah pikiran tentang Islam!!”
            Setelah shalat Jum’at, ia terus beribadah hingga malam tiba.
            Sementara itu, ketika kaum muslimin (laki-lakinya) tengah melaksanakan shalat Jum’at, ada seseorang mengetuk pintu rumah tua di antara reruntuhan itu. Ketika istrinya membuka pintu, tampak seorang lelaki membawa nampan yang ditutupi sapu tangan bersulam benang emas, dan berkata, “Ambillah nampan ini, katakan kepada suamimu bahwa ini upahnya selama dua hari. Bila ia terus rajin bekerja, maka upahnya akan ditambah, apalagi pada hari Jum’at seperti ini. Amal yang sedikit pada hari ini artinya besar sekali di sisi Raja Yang Maha Perkasa!!”
            Sang istri mengambil nampan itu, yang ternyata berisi seribu dinar (yakni, uang emas). Ia mengambil satu dinar dan membawanya ke tempat penukaran uang milik seorang Nashrani. Sang Nashrani itu tampak terheran-heran dengan uang dinar yang tidak biasanya itu. Ia mencoba menimbangnya, ternyata beratnya dua kali dari uang dinar biasa. Ia mengamati dengan seksama ukirannya yang juga tidak biasa, mungkin ukiran akhirat. Ia berkata, “Dari manakah engkau memperoleh dinar ini?”
            Wanita itu menceritakan pengalamannya, termasuk ketika suaminya memutuskan untuk meninggalkan agama Majusi dan memeluk Islam. Mendengar ceritanya itu, sang Nashrani langsung memutuskan memeluk agama Islam, dan ia memberikan seratus dirham kepada wanita itu. Ia juga berkata, “Pakailah uang ini, kalau telah habis, datanglah lagi ke sini dan aku akan memberikan lagi sejumlah itu…!!”
            Dengan seratus dirham itu ia membeli bahan makanan dan memasak untuk keluarganya. Sang suami masih tetap di masjid dan terus beribadah seperti dua hari sebelumnya. Ketika malam tiba, ia beranjak pulang, tetapi kali ini ia membungkus pasir dengan sapu tangannya. Jika istrinya nanti bertanya, maka akan dijawabnya kalau bungkusan itu adalah tepung.
            Ketika memasuki pintu rumah, lelaki itu membaui makanan yang enak, maka buru-buru ia melemparkan bungkusan sapu tangannya itu, tetapi istrinya sempat mempergokinya. Ternyata memang telah tersedia makanan yang enak-enak, dan anak-anaknya juga telah kenyang serta riang gembira. Dengan keheranan ia menanyakan asal mula semua itu. Setelah sang istri menceritakan apa yang terjadi, termasuk sang Nashrani yang memeluk Islam karena ceritanya, ia langsung bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Sang istri berkata, “Apa yang engkau bawa itu?”
            Lelaki itu berkata, “Bukan apa-apa, jangan tanyakan hal itu!!”
            Tetapi sang istri tampak penasaran, maka ia mengambil bungkusan sapu tangan itu, dan setelah dibuka, ternyata benar-benar berisi tepung. Lagi-lagi lelaki itu bersujud syukur kepada Allah, dan setelah itu ia makin gencar dan giat beribadah kepada Allah pada hampir seluruh sisa hidupnya.

 Note:mu30